Inginku teriakkan rasa gundah ini. Teriak sekencang-kencangnya hingga langit tahu bahwa membosankanya hidupku.
Sering kulihat kanan dan kiri, tapi itu yang menambah rasa iri dihati. Kemewahan yang ada pada mereka seolah membuatku semakain terluka. Kebahagiaan yang mereka rasakan menekan rasa perih hatiku.

Ya Tuhan, ini kah keadilan MU
aku tersiksa dengan hal ini.
Perasaan ini biasanya terus berkembang hingga kita lelah sendirinya, banyak kelakuan menjenuhkan yang seolah kita menyalahkan pembuat hidup. Hingga kita lupa akan arti dan tujuan hidup.
Kawan sebenarnya ini adalah sebuah penyakit. Penyakit resistansi dimana kita tidak mengalir bersama apa yang seharusnya terjadi. Kita enggan menerima sebuah ketidaknyamanan sehingga timbul kemandegan, kejenuhan yang menggelora dihati.
Banyak sekali diantara kita yang terkena alergi kehidupan seperti ini. Penolakan kita untuk mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Tanpa kita sadari kita akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus. Akan tetapi kita menginginkan status quo. Kita berhenti ditempat kita tidak ikut mengalir. Yang namanya bisnis pasti ada kalanya naik turun. Dalam persahabatanpun bentrokan kecil itu lumrah, wajar. Dalam hidup ini tidak akan ada yang abadi. Kita selalu berusaha mempertahankan suatu keadaan, akan tetapi kita gagal , kecewa dan menderita.
Alergi ini sebenarnya bisa disembuhkan. Jika kita berniat sungguh-sungguh. Semuanya dapat dengan lembut disembuhkan. Ketika kita hidup dalam kekinian. Apabila kita sadar bahwa maut dapat menjemput kapan saja, maka kita akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan ego kita, kesombongan dan keangkuhan . Jadilah orang yang lembut selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Maka kita tidak akan merasa jenuh, iri dan bosan.
Hidup bukanlah suatu beban yang harus selalu dipikul, melainkan sebuah anugrah yang seharusnya selalu kita nikmati dan syukuri.
ref.rasfm
harmoni-ilmu.blogspot.com
No comments:
Post a Comment